Plato
(bahasa Yunani: Πλάτων) (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM)
adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi
Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.[1] Ia adalah
murid Socrates.[1] Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates.[2].
Plato adalah guru dari Aristoteles.[1] Karyanya yang paling terkenal ialah
Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang
di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan
"ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates
adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah
perumpaan tentang orang di gua.[1] Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus
(Plato meninggal ketika sedang menulis).[1]
Filosof
Yunani kuno Plato tak pelak lagi cikal bakal filosof politik Barat dan
sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya
di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak pelak lagi, Plato
berkedudukan bagai bapak moyangnya pemikir Barat, Di masa remaja dia berkenalan
dengan filosof kesohor Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Tahun 399
SM, tatkala Socrates berumur tujuh puluh tahun, dia diseret ke pengadilan
dengan tuduhan tak berdasar berbuat brengsek dan merusak akhlak angkatan muda
Athena. Socrates dikutuk, dihukum mati. Pelaksanaan hukum mati Socrates --yang
disebut Plato "orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia
yang saya pernah kenal"-- membikin Plato benci kepada pemerintahan
demokratis.
Tak
lama sesudah Socrates mati, Plato pergi meninggalkan Athena dan selama 10-12
tahun mengembara ke mana kaki membawa.
Sekitar
tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah
akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Plato menghabiskan sisa umurnya
yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya
yang masyhur, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun
sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup
mata pada usia tujuh puluh.
Plato
menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah
politik dan etika selain metafisika dan teologi. Tentu saja mustahil
mengikhtisarkan isi semua buku itu hanya dalam beberapa kalimat. Tetapi, dengan
risiko menyederhanakan pikiran-pikirannya, saya mau coba juga meringkas
pokok-pokok gagasan politiknya.yang dipaparkan dalam buku yang kesohor,
Republik, yang mewakili pikiran-pikirannya tentang bentuk masyarakat yang
menurutnya ideal.
Bentuk
terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang
oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang
diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera
terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan
lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama.
Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut "guardian"
harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan
kualitas.
Plato
percaya bahwa bagi semua orang, entah dia lelaki atau perempuan, mesti
disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota
"guardian". Plato merupakan filosof utama yang pertama, dan dalam
jangka waktu lama nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan
kesempatan tanpa memandang kelamin. Untuk membuktikan persamaan pemberian
kesempatannya, Plato menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak
dikelola oleh negara. Anak-anak pertama-tama kudu memperoleh latihan fisik yang
menyeluruh, tetapi segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak
boleh diabaikan. Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka
yang kurang maju harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan
ekonomi masyarakat, sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan
menerima gemblengan latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan
cuma pada mata pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang
oleh Plato dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.
Pada
usia tiga puluh lima tahun, orang-orang ini yang memang sudah betul-betul
meyakinkan mampu menunjukkan penguasaannya di bidang teori-teori dasar, harus
menjalani lagi tambahan latihan selama lima belas tahun, yang mesti termasuk
bekerja mencari pengalaman praktek. Hanya orang-orang yang mampu memperlihatkan
bahwa mereka bisa merealisir dalam bentuk kerja nyata dari buku-buku yang
dipelajarinya dapat digolongkan kedalam "kelas guardian." Lebih dari
itu, hanya orang-orang yang dengan jelas bisa. menunjukkan bahwa minat utamanya
adalah mengabdi kepada kepentingan masyarakatlah yang bisa diterima ke dalam.
"kelas guardian."
Keanggotaan
guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi
guardian tidaklah banyak mendapatkan duit. Mereka hanya dibolehkan memiliki
harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah
pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang
tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian
tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan
berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini
bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum.
Begitulah ringkasnya sebuah republik yang ideal menurut Plato.
Republik
terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang
dianjurkan didalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model
pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya
negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Di abad-abad belakangan ini
beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut
sistem pemerintahan militer, atau di bawah tiran demagog seperti misalnya
Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya
kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan
partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi
pada ajaran-ajaran Karl Marx, apakah dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa
hasil karya Plato, kendati diperbincangkan dengan penuh penghargaan, sebenarnya
sepenuhnya disisihkan orang dalam praktek? Saya pikir tidak.
Memang
benar, tak satu pun pemerintahan sipil di Eropa disandarkan atas model Plato
secara langsung. Namun, terdapat persamaan yang mengagumkan antara posisi
gereja Katolik di Eropa abad tengah dengan "kelas guardian" Plato.
Gereja Katolik abad pertengahan terdiri dari kaum elite yang mempertahankan
diri sendiri agar tidak layu dan tersisihkan, yang anggota-anggotanya mendapat
latihan-latihan filosofis resmi. Pada prinsipnya, semua pria, tak peduli dari
mana asal-usulnya dapat dipilih masuk kependetaan (meski tidak untuk wanita).
Juga pada prinsipnya, para pendeta itu tak punya famili dan memang diarahkan
semata-mata agar mereka memusatkan perhatian pada kelompok mereka sendiri,
bukannya nafsu keagungan disanjung-sanjung.
Peranan
partai Komunis di Uni Soviet juga ada yang membandingkannya dengan "kelas
guardian" Plato dalam dia punya republik ideal. Di sini pun kita temukan
kelompok elite yang kesemuanya terlatih dengan filosofi resmi.
Gagasan
Plato juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota
konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan
politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar Konstitusi Amerika Serikat
membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga
diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik
untuk memerintah negara.
Ciri-ciri
Karya-karya Plato
- Bersifat Sokratik
Dalam
Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan
kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya.[1]
- Berbentuk dialog
Hampir
semua karya Plato ditulis dalam nada dialog.[1] Dalam Surat VII, Plato
berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam
huruf-huruf yang membisu.[1] Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu
perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk
dialog.[1]
- Adanya mite-mite
Plato
menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan
adiduniawi[1]
Verhaak
menggolongkan tulisan Plato ke dalam karya sastra bukan ke dalam karya ilmiah
yang sistematis karena dua ciri yang terakhir, yakni dalam tulisannya
terkandung mite-mite dan berbentuk dialog.[3]
Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi
Idea-idea
Sumbangsih
Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea.[4] Pandangan Plato
terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi.[4]
Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern.[4]
Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di
dalam pemikiran saja.[rujukan?] Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh
pemikiran manusia.[4] Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan
pikiran manusia yang tergantung pada idea.[4] Idea adalah citra pokok dan
perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah.[1] Idea sudah ada
dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita.[1]. Idea-idea ini saling berkaitan
satu dengan yang lainnya.[1] Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak
dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan
idea genap.[1] Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di
antara hubungan idea-idea tersebut.[1] Puncak inilah yang disebut idea yang
“indah”.[1] Idea ini melampaui segala idea yang ada.[1]
Dunia Indrawi
Dunia
indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat
dirasakan oleh panca indera kita.[1] Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah
refleksi atau bayangan daripada dunia ideal.[4] Selalu terjadi perubahan dalam
dunia indrawi ini.[4] Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini
fana, dapat rusak, dan dapat mati.[4]
Dunia Idea
Dunia
idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.[1] Dalam dunia ini tidak
ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah.[1] Hanya ada
satu idea “yang bagus”, “yang indah”.[2] Di dunia idea semuanya sangat
sempurna.[2] Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa
dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah
intelektual.[2] Misalkan saja konsep mengenai "kebajikan" dan
"kebenaran".[2]
Pandangan Plato tentang Karya Seni dan Keindahan
Pandangan
Plato tentang Karya Seni
Pandangan
Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide.[5] Sikapnya
terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik).[5] Plato
memandang negatif karya seni.[5] Ia menilai karya seni sebagai mimesis
mimesos.[5] Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada.[5]
Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli.[5] Yang asli itu
adalah yang terdapat dalam ide.[5] Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih
indah daripada yang nyata ini.[5]
Pandangan Plato tentang Keindahan
Pemahaman
Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahamannya tentang dunia indrawi,
yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang
sesungguhnya terletak pada dunia ide. Ia berpendapat bahwa kesederhanaan adalah
ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni.
Namun, tetap saja, keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah
keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.[5]
Referensi
^ Tjahjadi,Simon Petrus L., Petualangan
Intelektual Yogyakarta: Kanisius.2004. ISBN 979-21-0460-7
^ Bertens,K. Ringkasan Sejarah Filsafat,
Yogyakarta:Kanisius. 1976. ISBN 979-413-351-5
^ Verhaak, "Plato: Menggapai Dunia
Idea", dalam Sutrisno F.X Mudji dan F. Budi Hardiman, Para Filsuf Penentu
Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius, 1994.
^ Bertens, K.Sejarah Filsafat
Yunani.Yogyakarta:Kanisius.1999.
^ Sutrisno, Mudji dan Verhaak, Christ.
1993. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Kanisius.

